Saturday, January 26, 2019

Berhenti Sejenak (Part II - End)

"Setelah sekian lama memberi ruang kepada logika untuk menimbang untung & rugi, mungkin kali ini giliran hati untuk menyampaikan rasa"

Kadang ya gituuu..
Banyak banget pertimbangan yang berkecamuk di kepala yang bikin manusia makin jauh dari apa yang benar-benar dia inginkan.
Keadaan “aman” yang saat ini dirasakan jadi alasan utamanya. Dari “aman” secara ekonomi, status sosial yang disandang (sebagai pegawai perusahaan X & jabatan Y), dan penerimaan lingkungan (terdekat khususnya).
Hhmm.. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, yaudah kita jalanin apa yang ada di depan mata aja deh! Yang pasti-pasti aja!
Tapi, apakah betul begitu? Coba deh, berhenti sejenak & dengarkan apa yang perasaan kita ingin sampaikan.
Mungkin kita akan menemukan kembali hasrat yg menggebu terhadap sesuatu setelah sekian lama kita hanyut dalam segambreng rutinitas.

Friday, December 14, 2018

Berhenti Sejenak (part I)

Berhenti Sejenak.
Pastikan kembali tempat kau ingin berada..

Kadang, kita begitu sibuk dengan setumpuk rutinitas harian.
Kita menghabiskan waktu untuk mengerjakan seluruh hal yang tertera dalam catatan "To Do List".
Tanpa terasa, pagi pun beranjak menjadi malam, lalu dalam sekejap sudah pagi lagi.
Begitu seterusnya. Tau-tau tahun sudah akan berganti lagi..

Lalu, kenapa?
Ada yang salah dengan menjadi sibuk?
Bukankah sibuk sebenarnya membuat kita lega karena kita telah bergerak, bekerja begitu keras, dan berusaha sekuat tenaga?
Yayayaa.. Tapi, pertanyaan paling mendasar yang sebetulnya perlu kita jawab adalah "sibuk yang inikah yang benar-benar kita inginkan?"








Saturday, October 13, 2018

Udah Oktober 2018 aja?!

Banyak banget yang terjadi pada tahun 2018 ini. Seabrek pelajaran yang sudah gue dapatkan. Mudah-mudahan Indah Aprianti jadi agak pintar ya, Semesta.

Hehehee..

Apa aja emangnya yang udah terjadi?
Dari mulai bisnis yang aku mulai bersama saudaraku nggak berhasil sehingga berimbas pada buruknya hubungan kekeluargaan, terbelit hutang yang menelan 60-70% penghasilanku setiap bulan, drama di kantor yang semakin menjadi-jadi, dan banyak hal lainnya. Banyak yang buruk ya kesannya? Hehehee.. Nggak siiih.. Banyak banget juga hal baik yang terjadi kok! Tapi, hal terbaik adalah pada Bulan Juli aku dan Ipan membuat brand bisnis kami sendiri, yaitu #oemahindahipan. 

Sebetulnya #oemahindahipan ini adalah hashtag yang selalu aku gunakan di media sosial, khususnya instagram, baik feed maupun story, yang menunjukkan kegiatan aku dan Ipan. Karena kami berdua memiliki komitmen untuk lebih produktif (karena kami percaya bahwa manusia itu pada dasarnya diciptakan untuk mencipta), jadilah akun sosial media #oemahindahipan ini sebagai digital art gallery bagi kami. Selain itu, kami juga mulai menerima orderan jasa pembuatan karikartur, desain logo, desain undangan, dan hal lainnya yang masih terkait dengan desain visual. Hehehee.. Ngomong-ngomong, dari tadi aku bilangnya "kami", padahal mah 99% karya yang aku share di #oemahindahipan adalah karyanya Ipan. Aku mah tukang posting, social media specialist lah pokoknya! Tapi, aku mencoba banget untuk membuat #oemahindahipan ini punya nilai, isi postingannya bisa menginspirasi orang banyak, atau at least bisa jadi inspirasi buat diri sendiri untuk terus berkarya :)

Ada satu proyek yang aku kepikiran sih sekarang. Jadi, berdasarkan analisisku dari Juli sampe saat ini, sosial media-nya #oemahindahipan kurang berkembang karena kontennya tidak relate dengan calon customer atau orang yang sebenarnya tertarik dengan karyanya Ipan. Kenapa? Karena hampir semua yang kami posting adalah pesanan para klien yang sudah jadi. Salah satunya adalah karikatur. Mungkin (ini masih asumsi siiih) mereka enggan follow karena ya itu kan muka orang lain yang mereka sama sekali nggak kenal. Oleh sebab itu, aku mau buatkan sesuatu yang sebetulnya masih sejalan dengan value-nya #oemahindahipan, tapi juga relate sama orang banyak. Apakah itu? Aku mau nampilin hasil ngobrol-ngobrol aku dengan beberapa temen yang menurutku punya nilai sama kaya #oemahindahipan, yaitu bahwa manusia itu pada dasarnya adalah pencipta, melakukan yang sesungguhnya ingin mereka lakukan, bukan hanya menyelesaikan tugas-tugas harian sesuai perannya. Misalnya, seperti aku dan Ipan. Kami berdua adalah karyawan yang memiliki tugas & tanggung jawab pada sebuah perusahaan. Namun, sebagai manusia kami juga memiliki mimpi & keinginan personal yang perlu kami wujudkan. Nah.. Orang-orang seperti inilah yang akan kami ajak ngobrol-ngobrol sehingga mereka bisa jadi sumber inspirasi bagi orang banyak. Tentunya, yang akan kami ajak ngobrol bukan orang-orang yang sudah terkenal dan sukses di bidangnya, melainkan orang di sekitar kami yang status-nya bisa dibilang "work in progress" juga sama kaya kita-kita ini.

Sebetulnya, aku cuma mau ngingetin diri sendiri dan orang sekitar bahwa walaupun di pundak kita ada seabrek peran dalam hidup, misalnya sebagai karyawan, istri, suami, anak, orang tua, tapi kita nggak boleh melupakan keinginan-keinginan pribadi kita. Menurutku ini penting banget siiih. Simple-nya, peran kita saat ini mungkin sewaktu-waktu akan dicabut oleh Allah. Misalnya, kelak kita harus keluar dari kantor karena perusahaan bangkrut atau tugas kita sebagai ibu berubah seiring bertambahnya usia anak. Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk aktualisasi diri? Selama ini berpikir bahwa ya pekerjaan adalah achievement kita, trus kita mau apa? Nah di sinilah pentingnya setiap individu itu berusaha dan menyisakan energi dan waktunya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai atau kalau anak zaman now sebutnya passion.

Naah itulah cerita aku tentang next project yang entah bisa dimulai kapan karena sumbernya pada sibuk-sibuk eey.. (Aah alasan saja kau!). Bisa mulai dari interview Ipan dulu sih yaah! Yuuuk Cus..

Tuesday, October 3, 2017

Aku dan Malam (Part II)

Aku dan malam.
Kami berdua memiliki keintiman tersendiri.
Setelah pagi, siang, dan sore yang panjang, akhirnya kami bertemu.
Sering kali tidak dalam keadaan yang baik.
Kadang dalam keadaan yang terlalu lelah,
tubuh yang basah dengan keringat,
pikiran yang penuh kecewa dan marah.
Namun, malam selalu setia dengan kelembutan dan ketulusannya.
Bagai pelukan seorang ibu.
Bagai rumah tempat semua insan pulang.
Ia menerimaku apa adanya, tanpa mengeluh.

Kepada malam aku menitipkan mimpi dan doaku.
Bagi diriku sendiri dan bagi orang-orang yang aku cintai.
Berharap malam mengabarkannya kepada semesta
untuk senantiasa mengingatkanku pada mimpi dan doaku,
dan bergerak mewujudkannya.

Kepada malam aku membisikkan lelahku.
Kepada malam aku teriakkan bahagiaku.
Kepada malam aku tunjukkan wajah asliku, tanpa riasan, tanpa persona.
Karena malam membiarkan aku luruh bersama dengan gelapnya yang menenangkan,
tanpa ekspektasi.

Ruang makan #oemahindahipan
Bekasi, 16 September 2017

Saturday, April 15, 2017

Quotes from Akar - Dee Lestari

Kell (from Aristoteles) : Art partly completes what nature cannot bring to a finish. Art carries out Nature's unrealized ends.

Kell : "berhenti mencari, maka kamu akan menemukan".

Guru Liong : Jangan pernah berpuas diri di titik yang sama. Teruslah berputar, berputar, berputar, seperti kipas angin yg tak rusak.

Thursday, January 26, 2017

Semoga Besok Hujan tak Ingkar Janji

Ia duduk di trotoar, di sebelah sepeda tuanya yang menyedihkan.
Ia sendiri tidak lebih baik keadaannya dari si sepeda.
Ia duduk menunggu hujan.
Langit berubah kelabu.
Udara dingin terasa seakan menggigit kulitnya yang keriput.
Ia tersenyum.
Akhirnya, sebentar lagi ia bisa makan.

Sudah cukup lama ia duduk.
Dua jam.
Langit masih sama kelabunya dan udara dingin mulai membuat tubuh tuanya menggigil.
Tapi, yang ditunggu tak kunjung datang.
Hujan belum turun juga.
Ia tidak yakin perutnya bisa menahan lapar lebih lama lagi.

Ia masih duduk di tempat yang sama. Tidak beranjak sedikit pun.
Demikian pula dengan si sepeda tua.
Duduknya sudah tidak tegak lagi. Kepala disandarkan dengan lunglai ke pagar rumah yang entah milik siapa.
Ia sudah menunggu terlalu lama.
"Sepertinya hujan tak turun malam ini" pikirnya.

Dipandanginya si sepeda tua, teman setianya.
Di bagian belakang telah tersusun rapi puluhan benda terbuat dari plastik berwarna-warni dan sebuah papan dengan tulisan,
"JUAL PONCO
Besar Rp. 10.000
Kecil  Rp.    5.000"

Semoga lapar bisa menunggu sampai besok.
Semoga besok hujan tak ingkar janji..

Untuk Bapak Penjual Ponco di pinggir jalan Banjir Kanal Timur.

"Semoga Besok Hujan tak Ingkar Janji"

Kamis, 26 Januari 2017.
23:58

Saturday, May 21, 2016

Summary of Kierkegaard's thought

"... becoming subjective is the task proposed to every human being."

-Kierkegaard-

Manusia mendapatkan kesempatan untuk mengecap berbagai rasa yang dipersembahkan oleh dunia.
Jangka waktu yang diberikan berbeda-beda (terberi) kepada setiap manusia sampai ia dipanggil kembali oleh Tuhan.
Begitu pun juga cara manusia memaknai keberadaannya di dunia selama waktu yang diberikan (dapat dikontrol oleh dirinya sendiri).

Kierkegaard merupakan satu dari segelintir manusia yang mendokumentasikan pemikirannya tentang makna keberadaannya di dunia (baca : manusia). Seperti yang saya sendiri yakini bahwa manusia dibentuk dari pemaknaan terhadap masa lalunya, Kierkegaard juga memikirkan hal yang sama.

Kierkegaard adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir dari keluarga berada di daerah Kopenhagen. Karena kecerdasannya, Kiergegaard menjadi anak kesayangan Sang Ayah. Mereka kerap kali mendiskusikan berbagai hal yang tidak semestinya didiskusikan dengan anak semuda Kierkegaard saat itu. Salah satunya adalah tentang religi. Ayahnya juga mempersiapkan Kierkegaard untuk masuk sekolah teologi.

Ketika Kierkegaard beranjak dewasa, ayahnya menceritakan dua hal dalam hidupnya yang juga mengubah pandangannya terhadap Sang Ayah. Pertama, cerita tentang kemurkaan ayahnya kepada Tuhan karena kesulitan dan kemiskinan yang dialaminya sepanjang hidup. Kedua, cerita tentang pernikahan terlarang sang ayah dengan ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga pada keluarganya sendiri. Bahkan, anak pertama mereka lahir hanya lima bulan setelah mereka melangsungkan pernikahan.

Kedua peristiwa tersebut mungkin sangat mengecewakan bagi Kierkegaard karena ayah yang dikaguminya selama ini dan menjadi panutan dalam hidup telah melakukan dosa-dosa besar yang pernah ia ketahui. Belum lagi, nilai-nilai agama yang telah ditanamkan sendiri oleh ayahnya sejak kecil sangat bertolak belakang dengan tingkah laku ayahnya. Selain itu, kematian beruntun kakak-kakaknya dan ibunya dimaknai sebagai kutukan Tuhan atas kesalahan yang dilakukan oleh ayahnya. Hal ini menyebabkan hubungannya dengan ayahnya semakin merenggang, begitu juga hubungannya dengan Tuhan.

Peristiwa dalam hidupnya tersebut juga mempengaruhi kehidupan percintaannya dengan tunangannya, Regina Olsen. Karena penghayatan terhadap kesedihannya yang amat mendalam, Kierkegard memutuskan untuk membatalkan pertunangannya tersebut karena ia khawatir akan membuat tunangannya, Regina Olsen yang selalu ceria akan berubah jadi pemurung dan dirundung kesedihan seperti dirinya.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa pemaknaan terhadap masa lalunya membentuk persepsi manusia terhadap makna dirinya di dunia. Pemikiran Kierkegaard tentang eksistensialisme manusia dititikberatkan pada subyektivitas. Yang dimaksud dengan subyektivitas disini adalah bahwa manusia dimaknai sebagai individual, tidak dipukul rata secara general. Tidak berdasarkan angka-angka yang menunjukkan bagaimana gambaran manusia secara general seperti yang dilakukan oleh para peneliti.

Kierkegaard sangat mengagungkan pengalaman subjektif manusia. Menurutnya, seseorang pasti dihadapkan oleh berbagai pilihan dalam hidupnya yang tentu saja pilihan-pilihan ini akan berbeda bagi setiap manusia.

Dalam karyanya yang berjudul Either/Or ia menuliskan,

"Yes, I perceive that there are two possibilities, one can do either this or that"

Manusia dikatakan eksis ketika mereka membuat pilihan atau mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan baik dan buruk. Hanya dengan begitu pilihan yang dibuatnya menjadi bermakna. Seseorang yang melakukan pertimbangan yang matang saat mengambil keputusan dan tidak membiarkan dirinya terombang-ambing oleh pemikiran orang lain atau pemikiran lain yang dianggap lebih rasional, maka dia dikatakan bebas. Dengan begitu, manusia akan bertanggung jawab terhadap apa pun pilihannya dan menjalani konsekuensi dari pilihan yang telah dibuatnya.

Saya setuju dengan pemikirannya tentang hal ini. Bahwa manusia bertanggung jawab terhadap semua keputusan yang dibuatnya dalam hidup. Sepanjang hidupnya, manusia akan selalu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Baik pilihan yang sulit (yang dampaknya besar dan jangka panjang) atau pilihan sederhana saja. Kenapa? Karena pada akhirnya manusia akan kembali pada dirinya sendiri, harus berdiri di atas kakinya sendiri untuk menjalani konsekuensi dalam hidupnya. Membuat keputusan sendiri bukan berarti mengabaikan masukan dari orang lain. Tapi jadikan itu sebagai bahan pertimbangan, bukan serta merta langsung memutuskan.

Semakin dewasa (baca : tua *:p), semakin banyak contoh tentang subyektivitas individu yang dimaksud oleh Kierkegard. Misalnya, ketika memilih jurusan kuliah. Banyak sekali pertimbangan. Saya sendiri sampai mengalami perdebatan yang hebat dengan orang tua saya saat itu. Mereka memaksa saya untuk memilih universitas yang pilihan jurusannya tidak sesuai dengan minat saya. Alasannya sangat jelas. Biaya. Saya harus berpikir keras. Satu sisi saya tidak bisa memaksakan orang tua saya terkait biaya, tapi sisi lain saya pasti tidak akan bahagia kuliah di jurusan yang tidak saya inginkan. Akhirnya pada saat itu saya berkeras untuk tetap pada pilihan saya dengan pertimbangan bahwa toh universitas yang saya tuju adalah universitas yang kualitasnya baik dan tidak mahal. Harusnya tidak jadi masalah.

Kembali pada pemikiran Kierkegaard tentang eksistensialisme. Ia berpikir bahwa eksistensi bagi manusia merupakan tugas dan keharusan. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk bergabung dalam satu kelompok dengan tujuan untuk menyamarkan dirinya sebagai individu. Membebaskan diri dari tanggung jawab sebagai individu. Jadi ingat salah satu teori yang saya pelajari saat kuliah Psikologi Sosial (tapi lupa nama teorinya apa) bahwa dalam kerja kelompok itu pasti ada saja orang-orang yang free rider atau anggota kelompok yang tidak berkontribusi apa pun. Tapi toh dosen tidak tahu bahwa siapa anggota kelompok yang mengerjakan tugas dan mana yang tidak. Selain itu, ada juga konsep konformitas yaitu kecenderungan manusia untuk memilih atau memutuskan sesuatu yang lebih populer, dianggap lebih bagus atau lebih baik. Nah Kierkegaard pasti sangat tidak setuju dengan konsep ini. Mengaburkan tanggung jawab individu katanya. Saya setuju!

Namun, ada satu pemikirannya yang kurang sesuai dengan saya secara pribadi. Menurutnya pers membentuk pendapat umum yang anonim. Begini yang ia katakan tentang pers,

"Indeed if the press were to hang a sign out like every other trade, it would have to read: Here men are demoralized in the shortest possible time, on the largest possible scale, for the smallest possible price."

Ia juga tidak setuju dengan kegiatan mengumpulkan tanda tangan untuk menggalang kekuatan kelompok. Ia mengatakan bahwa mengandalkan diri hanya pada kekuatan numerik adalah kelemahan etis.

Menurut saya, ada beberapa isu yang tidak mudah dimengerti oleh semua orang sehingga media memberikan informasi-informasi berupa fakta untuk membantu mereka mengambil sikap tertentu. Tentunya masyarakat juga harus pintar memilah informasi yang disajikan oleh media massa, tidak menerimanya mentah-mentah. Di sini manusia kembali ditantang untuk menunjukkan eksistensialismenya dengan menimbang lebih dalam informasi dari media massa atau kelompok yang kekuatannya sangat besar. Apakah kita bisa mempertahankan eksistensi kita dengan tetap teguh pada pendirian kita meski pun berbeda dari pendapat kelompok atau sikap yang ditunjukkan oleh media massa.

Walaupun demikian, sebenarnya Kierkegaard tidak anti pada kelompok atau bergabungnya individu dengan individu lainnya. Menurutnya,

"It is only after the individual acquired an ethical outlook ... that there can be any suggestion of really joining together. Otherwise the association of individuals who are themselves weak is just a disgusting and hamrful as the marriage of children."

Sebetulnya saya setuju dengan apa yang dikatakannya. Tapi apakah sudah cukup banyak individu yang sudah mencapai eksistensi seperti yang dikatakan oleh Kierkegaard? Apa lagi di Indonesia. Budaya nggak enakan, budaya nggak sopan sama orang tua kalau ngelawan, takut dosa kalau nggak nurut kata orang tua. Sangat besar kemungkinan seseorang menjadi tidak eksis. Bisa dibilang begitu kan yaa. Menurut saya, Kierkegaard pun menelurkan pemikirannya tentang eksistensialisme ini berdasarkan pengalaman subyektive-nya sehingga kita juga akan mempersepsikannya sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut.

Selamat berkontemplasi ☺

Sumber :
Hasan, Fuad. 1992. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Pustaka Jaya: Jakarta.

*sejujurnya saya lupa apakah ini cara penulisan daftar pustaka yang benar 😅